KAWASAN PATUNG CADAS PANGERAN

Kawasan Patung Cadas Pangeran, bulan Nopember 2021 lalu

Ruas Jalan Tol Cisumdawu di Kawasan Sumedang Kota Masih Dalam Proyek Pengerjaan

Jalan Tol Cisumdawu menjadi salah satu megaproyek yang akan banyak mengubah tatanan kehidupan di Kabupaten Sumedang

Peninjauan Proyek Tol Cisumdawu oleh Kemenko Kemaritiman dan Investasi

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan saat meninjau lokasi proyek Tol Cisumdawu di Sumedang pada Bulan September 2021

WASPADA COVID-19 VARIAN OMICRON

Covid-19 Omicron mulai menyerang Indonesia. Waspadalah. Tetap tenang dan disiplin dengan protokol kesehatan

TIDAK ADA LIBUR PANJANG SEKOLAH JELANG NATARU 2022

Demi mengantisipasi penyebaran Covid-19 Omicron pemerintah menjadwal ulang kalender pendidikan sehingga tidak ada libur panjang jelang natal 2021 dan tahun baru 2022

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

20 Desember 2021

KADES MARGAMUKTI KEC. SUMEDANG UTARA TERUS IMBAU WARGA BUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA

GELAGAT.ID - Kepala Desa Margamukti Kecamatan Sumedang Utara, N. Siti Nuraeni Sofa,  sangat menaruh perhatian penting pada kebersihan lingkungan di desanya.  Dalam berbagai kesempatan kades perempuan yang akrab dipanggil Teh Rinrin itu selalu memberikan himbauan agar warganya senantiasa berperilaku hidup sehat, membuang sampah pada tempatnya, dan menjaga lingkungan sekitarnya  agar tetap bersih.

ILUSTRASI: Kades Margamukti "ngaliwet bareng" bersama warga  

"Menjaga kebersihan itu selain memang kebutuhan kita, juga adalah tuntutan agama. Menurut ustadz, Kebersihan itu adalah sebagian dari Iman. Maka mari kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Bu Kuwu, saat berbincang dengan gelagat.id, di ruang kerjanya, Senin (20/12/2021)

Tak cuma itu, dalam akun media sosialnya, Rinrin juga kerap memposting imbauan kepada warganya untuk tidak membuang sampah sembarangan.

"Saya terus mengimbau agar kita semua bersih diri, bersih lingkungan, dan hidup sehat. Kita mulai dari hal  yang barangkali dianggap sepele, mari kita buang sampah pada tempatnya," tandas Rinrin.

Semangat Rinrin untuk memajukan Desa Margamukti  agar terkategori "desa mandiri" memang begitu kuat.  Baru sekitar sebulan sejak dilantik menjadi kades, hasil Pilkades Serentak 2021, Rinrin langsung ngebut, menyerap aspirasi mengunjungi dusun-dusun di wilayah kerjanya.

"Ya memang harus ngebut kan Kang. Bagi saya, jabatan itu amanah dan harus dijalani dengan penuh rasa tanggungjawab," tegasnya. (*/gelagat.id)

Share:

14 Desember 2021

BIOSKOP PACIFIK Riwayatmu Kini

 AWAL dekade 1920-an, industri  film saat itu memang sedang menjadi industri hiburan mutakhir yang digemari dan berkembang pesat, meski baru sebatas film noir atau film bisu. Yang paling populer adalah film-film yang dibintangi Charlie Chaplin .

Di belahan bumi Hindia Belanda pun tak ketinggalan. Di Sumedang Regentschap atau Kabupaten Sumedang di masa kolonial, tersebutlah seorang busines man atau saudagar belanda bernama Meneer Boose.

Sebagai seorang saudagar, naluri bisnisnya mendorong ia untuk mendirikan sebuah gedung bioskop di berbagai kota di Preanger atau Jawa Barat, termasuk di Kabupaten Sumedang.  Di Kabupaten yang berjuluk Paradis van Java itu, Mener Boose membangun sebuah gedung bioskop, di tepi bagian selatan Sungai Cipeles, dekat dengan jembatan. 

Gedung bioskop selesai dibangun dan mulai digunakan pada tahun 1928. Diresmikan oleh Bupati Sumedang, Tumenggung Kusumadilaga atau Dalem Bintang. Oleh pemiliknya, Gedung itu diberi nama "Pacifik". Namun konon, warga Sumedang di masa itu, lebih populer menyebutnya sebagai Gedong Boose atau Gedong Meneer Boose.

Gedung bekas Bioskop Pacifik di Sumedang kini dirombak jadi Factory Outlet 

Ini adalah foto penampakan Gedung Bioskop Pasifik di tahun 1947. Arsitekturnya khas. pada bagian muka bangunannya seperti buritan kapal layar. Ada bagian yang menjulang di bagian depan, yang beribarat tiang layar. Dan bagian belakang didesaian seperti sebuah badan kapal layar secara keseluruhan. Bentuk arsitek bangunan seperti itu sepertinya jadi trend di gedung pertunjukan di masa itu.

Ketika Pemerintahan Kolonial Belanda Berakhir pasca kedatangan  Jepang di tahun 1942, Bioskop Pasifik itu beralih fungsi menjadi Gedung tempat pertunjukan Kesenian Rakyat. Atau sesekali digunakan untuk memutar film-film propanda Jepang yang sedang menggalang dukungan untuk Perang Asia Timur Raya. Nama Pasifik itu pun kemudian diganti menjadi Gedung "Sakura".

Lalu pada tahun-tahun awal pasca kemerdekaan Republik Indonesia, terjadi nasionalisasi terhadap aset-aset peninggalan  masa kolonial, termasuk Gedung Boose itu. Statusnya kemudian dinyatakan sebagai aset  negara milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Namanya berubah menjadi Gedung Kutamaya. Tuan Boose sendiri sejak kedatangan Jepang, sudah pulang ke Negeri Belanda.

Kawasan Gedung Pacifik tampak atas. Nampak Sungai dan Jembatan Cipeles 

Menurut penuturan kakek saya, di awal dekade 1950-an, Gedung Kutamya pernah pula dijadikan tempat pertunjukan sandiwara Mis Tjitjih.

Selanjutnya, sekitar tahun 1970-an, seorang pengusaha bioskop asal Sumedang, kemudian mengelola gedung itu, dan  mengembalikan namanya ke semula yaitu Pacifik. Sejak saat itu, namanya tak lagi berubah, hingga memasuki milenium baru.

Di tahun 1980-an, Warga Sumedang mengenal bioskop itu sebagai spesialis film India.  Jika mau nonton akting Ambita Bachan, Hemamalini, Danmendra, dan banyak artis-artis boliwod lainnya, Bioskop Pasifik adalah tempatnya. Paling sesekali saja memutar film Indonesia. Mau nonton di kursi kelas satu atau kelas dua, tergantung uang di saku. Kelas Satu biasanya masuk di pintu depan. Sementara kelas dua, masuk dari samping kanan Gedung itu.

Saya teringat beberapa kali pernah diajak orang tua menonton di Bioskop itu. Dan ketika saya menginjak remaja di tahun 1990-an, saya sudah tak pernah lagi menonton film di situ. Perilaku penonton yang aneh-aneh saat film diputar, membuat citra bioskop itu turun drastis, dan kumuh.  Apalagi film-film hits 90-an baik produksi dalam negeri maupun hongkong dan holywod, diputar di Bioskop Diana atau SIndangraja Theater, dua bioskop yang juga dikelola oleh pengusaha yang sama.

Hingga akhirnya saat memasuki milenium 2000, industri film dan bioskop di Indonesia mengalami kolaps dan luluh lantak.  Bioskop Pasific pun Gulung Tikar disusul oleh dua bioskop lainnya. Tahun 1999, Pengelola bioskop mengembalikannya kepada Pemprov Jawa Barat.

PT. Jasa Kepariwisatan, BUMD milik Pemprov yang mengelola gedung bekas bioskop pasifik itu, pada awal dekade 2000-an, kemudian menyewakannya kepada pengusaha sandang dan pakaian berlabel "Duta Pasar Raya".  MEski labelnya berubah, tapi Urang Sumedang tetap menyebutnya sebagai Gedung Pacifik. 


Arsitektur utama bangunan itu memang tidak dirubah. Tapi interiornya, seperti gerbang bagian depan yang terbuat dari besi, telah dibongkar. Loket penjualan dihilangkan. Buffet kantin jajanan bagi penonton tak ada lagi. Dan lantai ruangan yang menurun, khas gedung teater, dirubah menjadi datar.

Hingga tahun 2011, setelah habis masa sewa Duta Pasar Raya, gedung itu kemudian disewakan kepada pengusaha tempat hiburan, dan menjadikannya sebagai Tempat HIburan Karaoke dengan nama "Pasifik Hariring".

Perubahan interior gedung itu pun diperluas. Lantai dua yang dulu jadi tempat pemutaran reel film, di perluas dan di tata menjadi room karaoke. Sementara lantai satu dijadikan tempat nongkrong dan panggung pementasan kesenian.

Ironisnya, meski "Sumedang PUser Budaya Sunda" sudah dicanangkan sekitar tahun 2009, dua tahun sebelum "Pasifik Hariring" itu berdiri, sepengetahuan saya, jarang sekali pementasan kesenian sunda atau tradisional sumedang dipentaskan di gedung itu.  Ah entahlah...

Kini, Gedung Boose itu, disewa oleh pengusaha sandang dan pakaian lagi, dijadikan factory outlet, produk pakaian jadi. Namun perombakan terjadi hingga arsitektur utama di bagian depan yang menjadi ciri khas Gedung Itu dirombak total.

Pemerintah Kabupaten Sumedang memang tidak diam, dan berusaha menyelematkan gedung itu untuk dijadikan sebagai Heritage. KOnon, pemkab telah berkali-kali mengajukan kepada pihak terkait agar bisa menggunakan gedung tersebut sebagai  gedung pusat kebudayaan dan kesenian Sumedang.

Maklum,  Sumedang PUser Budaya Sunda, dengan jargon tina agama urang napak, tina budaya urang ngapak, sudah menjadi peraturan daerah.

Namun, apa hendak dikata. Kapital yang berbicara. Siapa punya uang di situ ada barang.  Pemilik cari pemasukan, pengusaha cari keuntungan.

Tradisi dan nilai-nilai pun tak berkutik. Lembaga-lembaga yang berkepentingan pun nyaris tak terdengar. Seniman dan budayawan pun nampaknya memilih diam, apalagi kondisi  terasa pengap. Mungkin karena terlalu lama harus memakai masker.

Ya apa boleh buat.... Kebutuhan zaman, perubahan perilaku banyak orang, dan kepentingan bisnis jauh lebih kuat dibanding semangat untuk menjadikan gedung itu sebagai salah satu heritage penting di Sumedang.

 Tapi mari kita lihat kasus yang hampir sama di Kota Bandung. Ketika ada rencana mengalihfungsikan Gedung Bekas Bioskop Dian yang  juga gedung peninggalan masa kolonial, yang letaknya di samping pendopo di sekitar alun-alun Bandung, Seniman dan Budayawan Kota itu bergerak.

Meski sama-sama merasakan dampak pandemi Covid-19, namun dipelopori dengan Gelar Pameran Seni Rupa Karya Tisna Sanjaya akhir Tahun 2020 lalu, mereka mengambil inisiatif ikut menjaga dan melestarikan bangunan cagar budaya.

Hasilnya, PT. Jaswita Jawa Barat pun sebagai pemilik Gedung Itu akhirnya melibatkan seniman dan budayawan untuk sama-sama mengelola aktifitas seni dan budaya di gedung itu.

Lantas di Sumedang?  yang menyatakan diri sebagai Puseur Budaya? Hmmmm...demikianlah...hehehehe.. (*/krn)

Share:

BATU SANGHYANG BUAHDUA SISA LEDAKAN GUNUNG PURBA?

 

SEKITAR pertengahan Januari 2020,  beberapa minggu sebelum wabah covid-19 merebak,  masyarakat Kabupaten Sumedang dihebohkan oleh temuan gelondongan batu di Desa Nagrak Kec. Buahdua Kab. Sumedang. Wartawan dan para youtuber ramai-ramai mengambil gambar di kawasan itu.

Batu-batu tersebut berukuran besar dengan bentuk yang hampir menyerupai balok-balok raksasa dan tersusun rapih. maka banyak yang mengira batu-batu itu merupakan situs purbakala bikinan manusia.

Pemerintah Kabupaten Sumedang mengaku akan menyelediki lebih lanjut tentang batu-batu itu. Jika memang situs purbakala, maka akan menjadi temuan yang memperkaya khasanah prasejarah di sumedang. Tapi jika ternyata batuan bentukan alam,  akan menjadi anugerah mineral yang nilainya sangat tinggi.

Hingga kini (14/12/2021), belum ada tindak lanjut atau hasil penelitian yang resmi diumumkan.  Batu-batu itu masih bisu di sana. Kehebohan tentangnya kemudian tertutup oleh covid-19.


Gundukan Batu di Desa Nagrak Kec.Buahdua



Nah, bagi saya sendiri, gelondongan batu-batu itu adalah batuan bentukan alam. Bentuk batuan itu hampir sama dengan yang ada di kawasan Citatah Bandung, yang sudah dieksplorasi sejak masa kolonial Hindia Belanda.

Pertanyaan selanjutnya, jika para ilmuwan geologi dan purbakala menduga batuan beku di kawasan citatah itu berasal dari letusan gunung sunda yang konon menyisakan gunung tangkubanparahu saat ini, maka dari manakah asalnya gelondongan batu di Buahdua Sumedang?

Apakah dari letusan gunung tampomas?  tidak pernah ada catatan gunung itu meletus. Bahkan kalaupun  ada mitos mau meletus, letusannya tidak jadi, karena konon  penguasa sumedang sudah melemparkan sebuah keris sakti ke tengha-tengah kawahnya. hmmm.

Kalau begitu dari mana?

Sekarang mari kita lihat kawasan bendungan Jatigede. Jika kita lihat dari ketinggian, kawasan itu nampak seperti sebuah sebuah cekungan kubah raksasa dengan dinding-dinding alam di sekitarnya.

Maka sejenak terlintas, mungkinkah kawasan itu dulu adalah bekas sebuah gunung purba yang meletus dahsyat ?

Diasumsikan, letusan itu melontarkan berbagai material yang kemudian membeku dan membentuk contour alam Kabupaten Sumedang saat ini.

Lihat pula misalnya bukit atau biasa disebut  "gunung kacapi".  Bukit itu unik. Dari arah utara, "Gunung Kacapi" itu  nampak sebagai gundukan batu batu cadas  yang diselimuti tanah dan semak-semak. Yang lebih unik adalah letak gunung kacapi itu sendiri,  terletak di tengah-tengah bentangan tatar tampomas yang bernama kota Sumedang.

Aparat desa setempat meninjau langsung kawasan Batu Sanghyang


Mungkinkah gunung kacapi itu pun dulunya adalah material letusan gunung purba yang saya maksud ? walllahualam bishshowwab.

Eh..catat ya, ini sekedar lamunan saja... perlu peneletian para ahli dan ilmuwan geologi serta kepurbakalaan untuk membuktikannya. Satu hal saja, saya bersyukur kepada Allah SWT, lahir, tinggal dan menjalankan kehidupan di Kabupaten Sumedang ini.  Kota leutik campernik...Namun  asyik. (*/kar)

 

 

 

 

 

Share: