KAWASAN PATUNG CADAS PANGERAN

Kawasan Patung Cadas Pangeran, bulan Nopember 2021 lalu

Ruas Jalan Tol Cisumdawu di Kawasan Sumedang Kota Masih Dalam Proyek Pengerjaan

Jalan Tol Cisumdawu menjadi salah satu megaproyek yang akan banyak mengubah tatanan kehidupan di Kabupaten Sumedang

Peninjauan Proyek Tol Cisumdawu oleh Kemenko Kemaritiman dan Investasi

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan saat meninjau lokasi proyek Tol Cisumdawu di Sumedang pada Bulan September 2021

WASPADA COVID-19 VARIAN OMICRON

Covid-19 Omicron mulai menyerang Indonesia. Waspadalah. Tetap tenang dan disiplin dengan protokol kesehatan

TIDAK ADA LIBUR PANJANG SEKOLAH JELANG NATARU 2022

Demi mengantisipasi penyebaran Covid-19 Omicron pemerintah menjadwal ulang kalender pendidikan sehingga tidak ada libur panjang jelang natal 2021 dan tahun baru 2022

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

02 Januari 2022

OPINI - - TAHUN BARU BUDAYA SIAPA ?

MALAM tahun baru adalah malam yang paling mendebarkan bagi sebagian remaja, kenapa bisa begitu karena dalam benak mereka ada segudang acara.

Pesta tahunan ini barangkali sudah menjadi tradisi yang bercampur aduk, akulturasi budaya sedemikian dahsyat menyerang semua ranah tak terkecuali pesta malam tahun baru. Serangan budaya ini bak tsunami 9 SC saking dahsyatnya seolah budaya asli sendiri terlupakan begitu saja.


Asal Usul Perayaan Malam Tahun Baru

Perayaan Tahun Baru pertama kali tercatat di Mesopotamia sekitar empat milenium lalu atau 2000 SM. Mereka merayakan pesta tahunan setiap tanggal 20 Maret.

Selain Mesopotamia ada beberapa negara lain yang juga mempunyai budaya perayaan di tanggal yang berbeda, sepertiMesir, Persia, namun mereka memperingatinya pada tanggal 20 September.Orang-orangYunani kuno memperingati awal TahunBaru mereka pada tanggal20 Desember.

Maka untuk mengakhiri semua perbedaan perayaan dan kebingungan ini JuliusCaesar mengakhirinya dengan membuat kalender baku yang mengikuti tahun matahari.

Pada tahun 46 SM ia memperkenalkan kalender Julian. Dalam kalender ini Tahun Baru resmi ditentukan pada tanggal 1 Januari, tanggal ini bertepatan dengan waktu tahun bahwa bumi paling dekat dengan matahari.

Selain itu penamaan Januari nama awal bulan sebagai bentuk penghormatan terhadap dewa Janus.Pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII mengubah kalender Julian dan menciptakan kalender Gregorian.Hingga hari ini sebagian besar dunia menetapkan tanggal 1 Januari sebagai awal tahun baru. Di AS tahun baru dirayakan dengan pesta dengan meniup trompet juga pesta kembang api.

Generasi Latah

Sampailah budaya ini di negeri kita, ditelan bulat-bulatoleh generasi latah, generasi yang terbawa arus globalisasi budaya tanpa tahu makna dibalik semua ritual tahun baru.

Anak-anak muda mulai turun kejalan-jalan dan berkumpul di spot yang sudah di tentukan sebagai penanda awal tahun. Bahkan panggung-panggung hiburan berjejer di sepanjang jalan. Tukang trompet laku keras, satu hari itu saja dia bisa membawa pulang laba untuk anak istrinya bisa sampai jutaan rupiah.

Mirisnya generasi latah mereka hanya ingin menyalurkan hasrat saja. Mereka hanya menjadi objek budaya. Hingar bingar suara petasan sudah terdengar diawal malam. Entah berapa milyar rupiah yang terbakar dalam satu malam itu saja hanya untuk membeli kesenangan setahun sekali.

Jati diri bangsa menjadi hambar -kalau tidak menyebut hilang,- budaya asing menyerang anak bangsa secara sengaja ataupun tak sengaja. Padahal kita tahu trompet itu budaya siapa, kembang api itu budaya siapa, dan yang paling prinsipiil adalah kita semua tahu bahwa pemborosan itu budaya siapa.

Akan tetapi di dua tahun terakhir ini kebiasaan itu mulai terlihat mereda. Mungkin karena pandemi covid -19 ada larangan berkerumun dari pemerintah, atau kondisi ekonomi yang serba susah sehingga berpikir seribu kali untuk menghamburkannya di perayaan Tahun Baru.

Membendung Budaya Asing dengan Memperkokoh Budaya Lokal

Tentu tidak mudah menghambat informasi di era digital hari ini, bagaimana mungkin air bah informasi dapat dibendung hanya dengan kerja biasa-biasa saja, perlu adanya formula khusus untuk menyalurkan anak bangsa ini agar tidak tergerus terbawa hanyut oleh budaya yang sama sekali akan merabut akar budayanya sendiri.

Pendalaman moral pendidikankah, atau pembatasan informasi oleh pemerintah yang berwenang atau usaha apa pun agar bangsa yang besar ini suatu saat tidak hilang ditelan zaman. Tapi mampu tetap hidup di atas budayanya sendiri. Tidak menjadi generasi ikut-ikutan yang membebek membabi buta. Tapi generasi yang mampu memfilter setiap pengaruh luar yang akan merusak identitas bangsanya sendiri.

Kerjasama di semua ranah, seperti peran serta pemerintah, para guru agama, tokoh masyarakat dan sebagainya. Untuk memastikan bahwa bangsa ini tetap ada di jalur yang benar. Jangan sampai generasi mendatang terasing di negeri sendiri. Semoga menjadi generasi yang bangga dengan tradisi sendiri bukan menjadi generasi latah.

Penulis: Dudi Safari, Warga Kabupaten Sumedang


Share: