KAWASAN PATUNG CADAS PANGERAN

Kawasan Patung Cadas Pangeran, bulan Nopember 2021 lalu

Ruas Jalan Tol Cisumdawu di Kawasan Sumedang Kota Masih Dalam Proyek Pengerjaan

Jalan Tol Cisumdawu menjadi salah satu megaproyek yang akan banyak mengubah tatanan kehidupan di Kabupaten Sumedang

Peninjauan Proyek Tol Cisumdawu oleh Kemenko Kemaritiman dan Investasi

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan saat meninjau lokasi proyek Tol Cisumdawu di Sumedang pada Bulan September 2021

WASPADA COVID-19 VARIAN OMICRON

Covid-19 Omicron mulai menyerang Indonesia. Waspadalah. Tetap tenang dan disiplin dengan protokol kesehatan

TIDAK ADA LIBUR PANJANG SEKOLAH JELANG NATARU 2022

Demi mengantisipasi penyebaran Covid-19 Omicron pemerintah menjadwal ulang kalender pendidikan sehingga tidak ada libur panjang jelang natal 2021 dan tahun baru 2022

Tampilkan postingan dengan label Fenomena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fenomena. Tampilkan semua postingan

19 Desember 2021

KISAH RATU CLEOPATRA, YANG SANGGUP "MENELAN" 10 RIBU LAKI-LAKI

 "Dengan memperhatikan cara seseorang bercinta, kita akan tahu lebih banyak tentang kepribadiannya daripada hanya dengan analisa biasa".

KALIMAT di atas ditulis oleh Maurice Nadeau, editor Les Letters Nouvelles, sebagai pembuka dalam buku The Intimate Sex Lives of Famous.

Buku tersebut tampil seperti sebuah ensiklopedi asmara, dilengkapi dengan fakta-fakta seputar kehidupan seks dari sekitar 200 nama-nama populer di dunia, seperti misalnya Karl Marx, Charlie Chaplin, Naoleon Bonaparte, dan sebagainya.

Dalam tulisan kali ini, mari kita simak bagaimana kehidupan seks seorang Ratu Cleopatra, Sang Ratu Mesir yang konon memiliki kecantikan yang sangat memikat dan sensualitas yang tinggi.

Liz Taylor berperan sebagai "Cleopatra", 1963
sumber: 
https://www.flickr.com/photos/lorenjavier/5686218192

Dalam sejarah, Ratu Cleopatra dikenal sebagai pelopor penggunaan komestik untuk mempercantik penampilan seorang perempuan. Figurnya digambarkan sebagai seorang ratu cantik nan cerdas. Konon, wanita berdarah bangsawan Yunani-Macedonia ini menguasai bermacam-macam bahasa pergaulan dunia saat itu.

Dia sangat terkenal dan terkategori sebagai selebritas dunia di masanya. Kisah cintanya berkali-kali dibuat novel dan difilmkan. Antara lain film "Cleopatra" yang diproduksi para sineas Hollywod sekitar tahun 1963.

Jika melihat sosok Elizabeth Taylor yang cantik dan tampil seksi sebagai Cleopatra di film itu, imajinasi kita tentu saja akan langsung setuju bahwa sang ratu itu memang sangat cantik. Tapi jika melihat gambaran dari patung mummy-nya, bisa jadi anda akan berfikiran lain. Meski memang, bentuk tubuhnya cukup sensual dan penuh pesona mengundang syahwat bagi laki-laki yang bertemu dengannya.

Sejak dulu, para penulis Yunani memang sudah mengetahui betapa Cleopatra adalah seorang petualang dalam urusan seks.  Dia diberi gelar "Meriochane", yang berarti "perempuan yang sanggup menelan sepuluh ribu laki-laki". Wow..!

Kiri: Deskripsi wajah Cleopatra berdasarkan patungnya

Konon, Cleopatra sudah mengenal hubungan seks saat berusia 12 tahun. Pada usia 21 tahun ia menjalin hubungan asmara dengan Julius Caesar, Sang Kaisar Romawi yang berusia 52 tahun.  Sang kaisar menjadikannya gundik. Sebab menurut hukum Romawi saat itu, ia tak mungkin memperistri Cleopatra, karena sudah mempunyai seorang permaisuri. 

Caesar sangat memujanya. Hasrat birahinya selalu terpuaskan. Maka ia pun membuat patung Cleopatra  di sebuah kuil tempatnya memuja Dewi Venus. Nah, tindakan ini kemudian yang menimbulkan rakyat Roma.

Dengan dalih ingin mempunyai anak laki-laki sebagai penerusnya, Caesar kemudian memboyong Cleopatra ke Roma. Ini yang menimbulkan polemik. Rakyat Roma kebanyakan menentang kehadiran Cleopatra, dan menyebutnya perempuan jalang. Para penjaga di Istana Roma kerap menyanyikan lagu-lagu ejekan yang menyebut Cleopatra seorang pelacur.

Faktanya, rakyat roma membenci itu bukan karena kecantikannya yang telah meledakkan hasrat Caesar. Tetapi karena Cleopatra berdarah Yunani, musuh besar bangsa Roma.

Galau karena kurang diterima rakyat Roma, diam-diam Cleopatra bermain api dengan Marc Antonius seorang panglima tentara Romawi.

Saat Caesar terbunuh, Cleopatra pulang ke Mesir. Dia menyimpan dendam dan segera menyusun siasat baru agar penguasa Romawi dapat kembali dalam kendali asmaranya.

Suatu ketika, Roma mengutus Marcus Antonius melakukan inspeksi ke wilayah Mesir. Tahu akan hal itu, Cleopatra girang hatinya. Saat Marcus Antonius beserta balatentara Romawi tiba, penyambutan dilakukan. Bukan saja meriah, tapi juga bikin seluruh tentara dan panglimanya "panas dingin".

Cleopatra tampil menyambut dengan gaun ala Dewi Venus. Tubuhnya yang memang sensual, berbalut sutra tipis warna biru.

Pesta dilangsungkan dalam suasana dan suguhan yang erotis, termasuk "Tarian Dewa Laut Glaucus". Konon, dalam tarian itu, sang penari tampil bugil. Seluruh tubuhnya dicat biru, melenggak-lenggok penuh rayu, lalu berguling-guling di lantai.

Para pasukan mesir mabuk kepayang. Dan Marcus Antonius masuk kamar, takluk dalam pesona sang ratu.

Singkat cerita, Marcus Antonius pun memujanya. Ia kembai ke Roma, untuk menceraikan Octavia, istrinya. Dan di Mesir, Cleopatra sudah mengandung bayi dari benih Antonius.

Saat tiba di Roma, Marcus Antonius malah berselisih dengan Octavian, adik istrinya. Pasukannya dikalahkan oleh Pasukan Octavian dalam sebuah peperangan di Actium. Balatentara Ocatavian kemudian mengeruduk Mesir, mencari Cleopatra.

Tahu situasi bahaya terjadi, Cleopatara berusaha sembunyi. Namun kabar yang diterima oleh Antonius, menyebut Cleopatra sudah mati. Karena sedih, Antonius menghujamkan pisau tepat ke ulu hati. Saat sekarat, tiba kabar baru yang menyebut Cleopatra masih hidup. Maka Antonius pun segera menuju Cleopatra. Namun terlambat. Ajal menjemputnya tepat dipelukan Cleopatra.

Sadar sudah kehilangan segalanya, Cleopatra  kembali menggunakan kecantikan dan sensualitas tubuhnya, merayu Octavian. Namun gagal.  Akhir cerita, Cleopatra kemudian pun memilih bunuh diri di depan mayat kekasihnya. Antonius dan Cleopatra pun mati berpelukan.  (*/gelagat.id/sumber: Majalah "Zaman" Edisi 23 Januari 1982)

Share:

16 Desember 2021

KISAH BUNDA RIZTI YANG MENGADOPSI ANAK PENGIDAP VIRUS HIV/AIDS DI SUMEDANG

 GELAGAT.ID - Terik matahari tak menyurutkan langkahnya melewati jalan desa berbatu. Berkali-kali ia menyeka keringat di kening, sebelum tiba di sebuah rumah semi permanen. Seorang anak laki-laki menyambutnya, mencium kedua tangannya. Dia balik mendekap, lalu menyapa anak itu, layaknya seorang ibu.

Rumah itu berada sekitar dua kilometer arah timur kawasan Bendungan Jatigede Kabupaten Sumedang. Anak laki-laki itu sebut saja Asep (bukan nama sebenarnya), jadi alasan penting mengapa Rizti Agralina, janda berusia 39 tahun, rela menempuh puluhan kilometer jarak dari rumahnya di kawasan Cileunyi Kabupaten Bandung.  Anak itu, telah divonis  positif mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV).

“Tuhan mempertemukan kami dalam warna kesedihan yang hampir sama, dan nurani tergerak begitu saja, spontan mendekapnya, menjadi ibu baginya,” kata Rizti, saat berbincang dengan saya, di rumahnya akhir tahun 2017.

Rizty memeluk Asep saat Launching Gerakan Pita Merah, 10 Nopember 2017

Asep telah sebatangkara. Ibunya yang wafat karena sakit. Beberapa bulan setelah itu, bapaknya pun meninggal dunia. Kedua orang tua Asep telah lama mengidap AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), penyakit yang dalam stigma sebagian orang adalah penyakit kutukan yang menjijikan.

Kini Asep tinggal bersama keluarga ibunya,  yang mungkin tidak faham dengan penderitaannya. Statusnya sebagai pengidap HIV dan keberadaan dia di pelosok ‘Kota Tahu’ itu terdeteksi oleh Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Sumedang.

“Suatu hari aku bertemu dengan Tita, teman semasa SMA. Dari dia aku tahu soal Asep. Dan entah mengapa, tiba-tiba hatiku bergetar, sedih, terharu, dan entahlah sulit ngomongnya harus gimana,” kata Rizti.

Dokter hewan lulusan Institut Pertanian Bogor itu  kemudian bertutur, masalah dan kesedihan hidupnya selama ini telah membuat jiwanya kering. Dia kehilangan anak semata wayangnya yang wafat di usia dua tahun. Tak lama setelah itu, dia pun bercerai dengan suaminya.  Kecuali sedikit teman dekat dan kolega yang menghiburnya, dia sendirian merasakan dan melewati kepedihan terhebat itu, hingga hatinya membatu.

Bila kesepian datang, traveling dan mendaki gunung jadi pilihan. Bila rasa rindu pada sang buah hati menghampiri, dipecahkannya menjadi air mata, lalu menyibukkan diri dengan pekerjaan. Namun semua dirasakannya hampa, tak berarti. Hanya menghindar, tak menjawab tuntutan hati.

“Sampai aku mendengar soal Asep, mengunjunginya, dan jujur aku sampai nangis memeluk Asep. Aku merasa kesedihan Asep adalah kesedihanku, saat itulah aku bilang jadi Ibu asuh dia,” tuturnya.

Sejak saat itu Rizti mengaku merasa seperti ada dalam suasana pagi yang cerah. Bangun dengan gairah positif dan bergelora. Semangat hidup yang hilang selama ini entah ke mana, dirasakannya kembali. Dia mencoba memahami dan meyakini makna dan rasa kepedihan, dalam koridor nasib dan takdir Tuhan.

“Aku janda. Hidup sendiri, merasa mapan, tak ada beban, hidup berlangsung, dan waktu berlalu begitu saja. Tapi ternyata banyak hal yang bisa aku lakukan untuk bisa menjadi lebih berarti. Aku merasa, Tuhan membimbingku bertemu Asep,” ujarnya, sambil menyeka linangan air mata.

Asep telah membuat Rizti tersentuh dan faham, bahwa ada yang bernasib lebih pedih darinya dan membutuhkan uluran kasih sayangnya. Naluri ibu yang tak sempat dia wujudkan lebih lama, sebagian tercurah untuk Asep.

“Tadinya aku ingin Asep tinggal di rumahku, namun keluarga Asep tak mengijinkan. Biarlah, tak menghalangiku untuk berbuat demi dia. Aku menanggung keperluannya, untuk sekolahnya, pokoknya semua kebutuhan Asep, semampuku,” tandasnya.

Dan Asep pun menginspirasinya untuk melangkah lebih jauh. Dia tahu, bukan hanya Asep, anak-anak pengidap HIV yang tertular dari ayah dan ibunya. Asep dan anak-anak senasibnya, menjadi korban perilaku orang tua mereka. Dalam catatan KPA, ada 26 orang anak senasib Asep di Sumedang.

Dengan melihat satu sisi penyebab penyebaran dan penularannya, maklum bila stigma masyarakat menyebut HIV/Aids  sebagai penyakit kutukan atau murka Tuhan.  Tapi, terlahir sebagai pengidap HIV tentu saja bukan keinginan atau pilihan Asep dan anak-anak itu. Mereka tak berdaya, dan hanya menerima konsekuensi dari ‘dosa’ ayah-ibunya.

“Ada teman yang sempat nanya, apa kamu gak takut ketularan sama anak itu? Aku sempet kesel, spontan aku bilang, Hey..madam..Jadi ibu itu bukan dosa !. Ya mungkin temenku belum ngerti seperti apa HIV/Aids itu sebenarnya,” ujar Rizti

Saat terlahir ke dunia, sebagai bayi, Asep tidak bisa memilih. Asep dan anak-anak itu  tidak bisa menolak ibu dan bapaknya menularkan penyakit itu. Kehendak Tuhan-lah yang berbicara.

“Aku pun merasa begitu. Anakku sedang lucu-lucunya dipanggil Tuhan. Saat menikah, kami juga tak pernah bercita-cita untuk cerai. Aku tak berdaya, Asep tak berdaya, dan kita semua pada akhirnya tidak berdaya. Kita hanya bisa berbagi satu sama lain, untuk menjalani hidup,” ujar Rizti, sorot matanya nampak jauh menerawang.

Tentu saja kita tidak layak mempertanyakan kepada Tuhan mengapa begini dan begitu. Namun setiap kali kita meminta, Tuhan selalu memberi dengan cara yang kadang tak terduga. Dia Maha Kuasa, dan sangat mungkin membuat Asep dan anak-anak itu terhindar dari penularan. Tapi Tuhan membiarkan Asep tertular untuk menggugah sesama kita, bahwa peduli dan berbagi adalah salah satu cara kita menjadi berarti sebagai hamba-Nya. Setidaknya bagi Rizti. 

Pertengahan tahun 2019, Rizty menghubungi saya, meminta saya membantu mendaftarkan Asep ke sebuah pesantren di kawasan Angkrek Sumedang Utara. Dan ustadz pimpinan pondok pesantren itu begitu antusias menerima Asep, dengan segala kondisi dan statusnya sebagai pengidap HIV.Aids, menjadi santri di pesantren tersebut. 

"Mudah-mudahan jadi ladang ibadah bagi kita semuanya," kata Sang Ustadz

Namun hanya beberapa bulan saja, Asep menjadi santri. Tuhan lebih menyayanginya. Pertengahan Tahun 2020, ketika wabah Covid-19 menyerang dahsyat, imun tubuh Asep tak berdaya. Asep meminta pulang ke kampungnya. Di pangkuan neneknya, Asep menghembuskan nafas terakhirnya. 

"Saya menangis. Saya kembali merasa kehilangan. Satu hal yang saya sesali, saya tak sempat dulu bertemu, hanya bicara via telepon," kata Rizty. 

Demikianlah. (*/kurniawan)

Share:

HEBOH POHON PISANG BERJANTUNG LIMA

 

GELAGAT.ID - Banyak hal unik di dunia tumbuhan. Mungkin biasa-biasa saja dan sudah terjadi sejak dulu. Hanya kita baru saja melihat atau menemukannya.

Di Kampung Awilega Dusun Tonjong Desa Hariang Kecamatan Buahdua, ada tiga batang pohon pisang yang tumbuh unik, di sebuah kebun milik warga bernama Jaja.

Dua pohon pisang berjenis "Ambon Hijau". Yang satu tumbuh dengan dua tandan dan dua jantung. Satunya lagi tumbuh dengan lima tandan dan lima jantung.

Satu jenis lainnya  "Cau Muli" atau "Pisang Muli". Keunikannya, sekalipun sudah ditebas, ia masih berbuah.

Pisang Unik di Desa Hariang Kec.Buahdua Kab. Sumedang

"Saya sudah sering menanam pohon pisang, tapi baru kali ada pohon yang seperti ini. Yang pertama duluan itu yang dua, terus yang lima oer (batang), lima buah, lima jantung," ujar Mang Anjas, warga setempat yang menanam pisang itu di kebun milik Jaja, kepada wartawan, Selasa (14/12)

Anjas mengaku dirinya tidak menyangka bila pohon pisang yang ditanamnya akan berubah dua sampai lima jantung dan tandan.

 "Awalnya tumbuhnya biasa seperti pohon lainnya, satu bulan baru terlihat ada yang dua jantung. Seminggu kemudian tumbuh lagi yang lima jantung," ucapnya.

Tentu saja hal ini membuat warga setempat penasaran. Menurut Anjar, banyak yang datang bahkan dari luar kampungnya, untuk mengabadikan pohon pisang itu. Baik dengan media foto maupun video. Saking "viral" nya, kepala desa setempat dan perangkatnya juga datang ke lokasi untuk mengecek kebenarannya. (*/)

 

Share: