KAWASAN PATUNG CADAS PANGERAN

Kawasan Patung Cadas Pangeran, bulan Nopember 2021 lalu

Ruas Jalan Tol Cisumdawu di Kawasan Sumedang Kota Masih Dalam Proyek Pengerjaan

Jalan Tol Cisumdawu menjadi salah satu megaproyek yang akan banyak mengubah tatanan kehidupan di Kabupaten Sumedang

Peninjauan Proyek Tol Cisumdawu oleh Kemenko Kemaritiman dan Investasi

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan saat meninjau lokasi proyek Tol Cisumdawu di Sumedang pada Bulan September 2021

WASPADA COVID-19 VARIAN OMICRON

Covid-19 Omicron mulai menyerang Indonesia. Waspadalah. Tetap tenang dan disiplin dengan protokol kesehatan

TIDAK ADA LIBUR PANJANG SEKOLAH JELANG NATARU 2022

Demi mengantisipasi penyebaran Covid-19 Omicron pemerintah menjadwal ulang kalender pendidikan sehingga tidak ada libur panjang jelang natal 2021 dan tahun baru 2022

Tampilkan postingan dengan label Dapur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dapur. Tampilkan semua postingan

20 Februari 2022

MERACIK PIKIR DAN RASA (SERI 3): AL-MALIK -- MAHARAJA

ALLAH Swt. Maharaja, raja diraja, raja dari segala raja. Demikianlah asmaul husna ketiga: Al-Malik.

Kata malik merupakan derivasi dari malaka-yamliku-mulkan yang terdiri dari tiga bentukan fonem /m/, /l/, dan /k/. Arti dasarnya sudah diserap kedalam bahasa Indonesia sendiri menjadi memiliki---terjemahan yang fonemnya tak jauh dari kata asal.



Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan milik sebagai kepunyaan; hak. Sementara raja didefinisikan sebagai penguasa tertinggi pada suatu kerajaan.

Al-Qur’an sebagai sumber pengambilan asmaul husna sendiri menyebutkan malik dua belas kali. Tujuh ayat merujuk malik kepada manusia, misalnya dalam ayat-ayat berikut:

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut; aku bermaksud merusaknya, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu. (QS Al-Kahf [18]: 79)

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ 

Dan nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Talut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi) menjawab, “Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik.” Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah [2]: 247)

Dan di lima ayat, malik merujuk kepada Allah Swt. seraya memberi penegasan bahwa dialah malik yang sebenarnya:

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا 

Maka Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS Thaha [20]: 114)

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ 

Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS Al-Hasyr [59]: 23).

 

***

Anak bungsu saya sekarang usianya dua tahun. Akhir-akhir ini secara instingtif, dia tengah belajar tentang kepemilikan. Contoh kasus, awalnya dia tidak merespons apa pun kalau mainannya dimainkan oleh kakaknya. Sekarang dia mulai protes, “Dede! Dede!” Mungkin maksudnya, “Aa, ini punya Dede! Jangan dimainin!” Demikianlah terjadi dalam banyak kasus.

Rupanya dalam psikologi perkembangan anak, hal itu memang bagian dari proses normal pertumbuhan anak. Dan, jika arahan orangtua atas proses alamiah ini salah, walhasil sikap yang terbentuk di anak bakal menjadi pelit dan serakah. Lantas, kenapa Allah memberi manusia rasa akan kepemilikan sedemikian rupa sehingga tanpa arahan yang benar, menjadi benih-benih keserakahan? Ataukah ini bagian dari upaya Allah memberi pengajaran kepada manusia untuk bisa memahami-Nya, termasuk memahami tentang kepemilikan Allah terhadap langit dan bumi beserta segala isinya? Kepemilikan Allah terhadap manusia sendiri?

Saya teringat akan ungkapan seorang ulama sufi, Yahya bin Muadz Ar-Razi:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

Artinya, “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

Mengenal diri sendiri: karakter, pola, hal-hal naluriah sebagai manusia, merupakan upaya untuk mengenal Tuhan, termasuk tentang kepemilikan. Memiliki sesuatu adalah membentuk ikatan terhadap sesuatu itu. Jika ikatan itu disadari sebagai ikatan yang tak abadi, maka tak mungkin muncul sikap pelit dan serakah. Jika ikatan itu disadari sebagai ikatan pemberian, ikatan yang diamanahkan, maka kenapa harus meratapi saat ikatan itu diambil oleh si empunya?

Sertifikasi kepemilikan bumi. Tiba-tiba saya teringat frasa ini. Tanah dan bumi ini milik siapa? Mengapa dunia dan manusia menjadi seruwet ini jadinya?

إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ 

Sesungguhnya Kamilah yang mewarisi bumi dan semua yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami mereka dikembalikan. (QS Maryam [19]: 40)

 

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ 

Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuzh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh. (QS Al-Anbiya’ [21]: 105)

 

Pertanyaannya, sesaleh apa kita sehingga berhak menjadi ahli waris Al-Malik?

Share:

11 Januari 2022

MERACIK PIKIR DAN RASA (SERI 2): ALLAH AR-RAHIIM, MAHA PENYAYANG

JIKA aplikasi sifat Ar Rahman saya temukan di Ayah, maka Ar Rahiim di Ibu.

Mamah, begitu kami memanggilnya. Perempuan sunda berdarah ningrat Sumedang. Cantik, putih. Dan itu mirip adik saya, bukan saya:)

Allah menganugerahi rahim di tubuh Ibu, bukan di Ayah. Di sanalah tersemai benih manusia, ketat dalam penjagaan dan pantauan Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Dialah yang membentuk kamu dalam rahim menurut yang Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 6)

 Kata Ar-Rahiim dan Arhaam yang merupakan bentuk majemuk dari rahmun memiliki akar kata yang sama, yaitu /r/, /h/, dan /m/, yang artinya menaruh kasih, mencintai, serta menyayangi dengan sangat dalam.

Allah Ar Rahiim telah menetapkan benih-saya di rahim seorang perempuan bernama Saribanon. Dalam bahasa Sunda, nama itu berarti pusat perhatian atau benteng yang kuat. Keduanya maujud di diri Mamah.

Jangan bayangkan kasih sayang yang dia curahkan berupa ucapan lembut, belaian sayang, bukan. Beliau mendidik anak-anaknya dengan tegas, bahkan tak jarang dengan pukulan di kaki. Beliau mendoktrinasi kami dengan nilai-nilai kesopanan kepada sesama manusia, kegigihan mencari nafkah, dan masih banyak lagi. Tangannya sekuat baja melindungi kami saat Ayah bekerja berminggu-minggu di luar kota. Dengan tangan itu pula beliau menjahit hingga larut, mengejar deadline order jahitan, dengan mesin jahit Butterfly. Derit roda mesinnya masih tersimpan di memori kepala saya. Beliau yang keukeuh anak-anaknya harus lulus sarjana, hingga semua tanah yang dibeli, dijual kembali.

Jangan bayangkan beliau lulusan sarjana, sekolah pun hanya sampai SMP. Jangan bayangkan beliau membaca banyak buku agama, sains, atau psikologi. Membaca Quran saja masih terbata-bata.

O iya, tentang sains, justru ide praktikum penguapan melalui kompor dan alat-alat dapur mainan, mengantarkan saya menjadi Siswa Teladan Tingkat Provinsi kala SD.

Beliau minim ilmu agama, namun saat saya bertanya dengan bekal apa Engkau mendidik kami wahai Ibu? Jawabnya adalah, doa.

Maka mengalirlah doa-doanya dalam perjalanan hidup kami hingga sekarang, seraya kami menengadah kepada Ar Rahiim dan berucap lirih, "Sayangi dia, Mamah kami dengan cara-Mu. Sebaik-baik cara, aamiin." (*/gelagat.id)

Share:

01 Januari 2022

MERACIK PIKIR DAN RASA (SERI 1): AR-RAHMAN, ALLAH YANG MAHA PENGASIH

ASMAUL husna yang menempati urutan pertama dari 99 penyifatan terbaik untuk Allah Swt. ini penting sekali bagi saya. Tentu saja setelah saya tempatkan posisi superlatif Allah atas makhluk.  Abdurrahman, ayah saya. Putra Bugis asli. ‘Abduartinya hamba. Rahman artinya Maha Pengasih. Jadi, hambanya Sang Maha Pengasih. Dalam pelafalan negeri Anging Mamiri, Abdurrahman dipanggil menjadi Beddu Lamang.

Menyebut nama ayah saya, mewujudlah kewelasan makhluk yang meneladani Allah Ar-Rahman. Wajah ayah saya garang layaknya putra Bugis. Intonasi bicaranya pun tinggi, nyaris mirip orang yang marah-marah. Pernah ibu saya protes, “Jangan marah begitu!” Dan, masih dengan nada tinggi, ayah saya menjawab, “SIAPA YANG MARAH?”

Lantas, di mana kewelasan yang saya sebut-sebut tadi? Suatu ketika saat saya usia 10 tahunan. Hujan turun deras sore itu. Pagar besi halaman rumah kami berderit, tanda ada yang membuka. Rupanya, seorang gila dengan tubuh kotor dan pakaian compang-camping masuk dan berdiri mematung di teras. Ibu saya langsung sewot.Dia cepat-cepat membawa sapu hendak mengusirnya. Dengan sigap, Ayah saya menghadang Ibu. “Kasihan,” ucapnya. Ibu lalu duduk dengan wajah kesal.

Ayah lantas pergi ke kamar, mengambil handuk, baju, dan celana panjang dari lemarinya. Dia kemudian keluar dan menyapa si orang gila. Orang itu menatap Ayah dengan ketakutan. Ayah mendekatinya, dan tanpa risih mengeringkan tubuh orang itu dengan handuk lalu menyuruhnya mengganti baju dan celana. Tak sampai di situ, dia pun mengambil makan dari dapur lalu memberikannya kepada orang itu. Dan, Ibu masih saja duduk di kursi makan dengan wajah kesalnya.

Hati sewelas apa yang sanggup melakukan hal itu? Tanpa basa-basi. Tanpa pencitraan. Masih banyak kisah kewelasan Ayah dalam kenangan saya. Tak hanya kepada manusia, juga kepada hewan. Seeekor kucing liar yang selalu diberinya makan bahkan menjadi jinak dan hingga sekarang  setia menungguinya di teras masjid, menunggu ayah saya keluar dari pintu masjid untuk ‘mengawal’-nya pulang ke rumah. Allahu Rahman, limpahkan kewelasan-Mu bagi dia ayahku, ayah kami. Aamiin. (*)

RUBRIK "DAPUR BU ANI" diasuh oleh: Indrayani Mallo (Bu Ani), Penulis, Guru SD Muhammadiyyah 7 Antapani Bandung

 

Share: