KAWASAN PATUNG CADAS PANGERAN

Kawasan Patung Cadas Pangeran, bulan Nopember 2021 lalu

Ruas Jalan Tol Cisumdawu di Kawasan Sumedang Kota Masih Dalam Proyek Pengerjaan

Jalan Tol Cisumdawu menjadi salah satu megaproyek yang akan banyak mengubah tatanan kehidupan di Kabupaten Sumedang

Peninjauan Proyek Tol Cisumdawu oleh Kemenko Kemaritiman dan Investasi

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan saat meninjau lokasi proyek Tol Cisumdawu di Sumedang pada Bulan September 2021

WASPADA COVID-19 VARIAN OMICRON

Covid-19 Omicron mulai menyerang Indonesia. Waspadalah. Tetap tenang dan disiplin dengan protokol kesehatan

TIDAK ADA LIBUR PANJANG SEKOLAH JELANG NATARU 2022

Demi mengantisipasi penyebaran Covid-19 Omicron pemerintah menjadwal ulang kalender pendidikan sehingga tidak ada libur panjang jelang natal 2021 dan tahun baru 2022

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

26 Agustus 2022

RINDU SOSOK POLISI JUJUR SEPERTI JENDERAL HOEGENG : TERINSPIRASI OLEH KEPALA POLISI ASAL SUMEDANG

PRESIDEN Abdurahman Wahid atau Gus Dur pernah berujar:  Polisi yang baik dan jujur di Indonesia itu cuma ada tiga,  pertama Jenderal Hoegeng Iman Santoso, Polisi Tidur, dan Patung Polisi. 

Gus Dur memang ada-ada saja. Jangan dianggap serius, teman-teman. Tapi memang candaan Gus Dur itu diamini oleh masyarakat Indonesia.

Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso
Kapolri ke-5 dalam sejarah kepolisian Indonesia

Tentu saja ada alasan mengapa Gus Dur dan masyarakat Indonesia menilai Jenderal Hoegeng sebagai contoh, teladan, atau prototipe ideal Polisi Indonesia. Dari banyak hal tentang kisah Jenderal Hoegeng, ada satu yang menarik bahwa ternyata Jenderal Hoegeng tertarik menjadi seorang polisi itu karena terpesona dan terinspirasi oleh sosok seorang kepala polisi yang bertugas di Pekalongan, yang lahir dari turunan menak sumedang. sosok itu adalah Raden Ating Natadikusumah.

Dari banyak sumber diketahui, Jenderal Hoegeng adalah Kapolri yang ke-5 dalam sejarah Polri. Beliau lahir di Pekalongan Jawa Tengah, pada tanggal 14 Oktober 1921. Saat menjadi kapolri, beliau dikenal tegas, jujur, berani, dan hidup sederhana.

Sebagai orang nomor satu di Kepolisian RI, Jenderal Hoegeng bisa melakukan dan mendapatkan banyak hal untuk memperkaya diri dan keluarganya. Tapi dia tidak. Majalah Tempo Edisi 22 Agustus 2021 menulisnya dengan baik;

"Selagi menjabat, Jenderal Hoegeng mengajarkan betapa pentingnya menjaga integritas, yakni keteguhan moral untuk mengatakan dan melakukan apa yang diyakini benar secara universal. Dia membuktikan bahwa contoh perbuatan lebih penting daripada kata-kata perintah atau bahkan ceramah yang menyerukan kebajikan," (Sumber Majalah Tempo edisi 22 Agustus 2021, halaman 31)

Ada suatu cerita yang absah, di mana Jenderal Hoegeng sempat membentak dan mengusir, seorang Cukong yang hendak menyogoknya. Saat diangkat sebagai Kepala Direktorat Reserse dan Kriminal Kepolisian Sumatara Utara, tanpa sepengetahuannya, Si Cukong datang ke rumah dinas yang baru ditempati Hoegeng dan memenuhi rumah dinas itu dengan berbagai perabot rumah tangga yang mahal dan istimewa di jaman itu.  Saat Hoegeng tiba di rumah dinas itu, dia kaget dan marah;

"Tolong keluarkan Perabot yang bukan milik saya ke luar rumah dan taruh pinggir jalan!" tegas Jenderal Hoegeng sambil berlalu.

Lantas, mengapa Hoegeng Iman Santoso mau jadi Polisi?

Ayah Hoegeng, Soekarjo Kario Hatmojo, seorang Jaksa di era Hindia Belanda. Soekarjo memiliki dua orang kolega dekat saat bertugas, yakni Suprapto (Kepala Pengadilan) dan Ating Natadikusumah (Kepala Polisi). Majalah Tempo menceritakan, Hoegeng Terkesima melihat ayah dan dua sahabatnya itu saat bertugas.

Dari Ketiga Ambentar atau Pejabat HIndia Belanda itu, Hoegeng paling mengidolakan sosok Raden Ating Natadikusumah. Apalagi saat melihat Raden Ating berseragam polisi, dengan sepucuk Pistol di pinggang, dan mengendarai sepeda motor dinasnya Harley Davidson. Namun yang lebih menginspirasi Hoegeng adalah kepribadian dan sikap Raden Ating yang lurus dan berwibawa serta suka menolong rakyat pribumi.

Sebagai sesama Ambtenar, Raden Ating kerap bertandang ke Rumah Soekarjo, ayah Hoegeng. Dalam satu kesempatan, Raden Ating berpesan kepada Hoegeng.

"Sekolah baik-baik Geng, supaya bisa jadi polisi untuk membantu orang lemah dan tak bersalah," pesan Raden Ating kepada Hoegeng. (Sumber: Tempo, 22 Agustus 2021, halaman 55)

Raden Ating Natadikusumah sendiri dalam sejarah Kepolisan RI dikenal adalah Kepala Kepolisan Jakarata atau (Kapolda Metro Jaya) yang pertama. Ia menjabat dari 6 Desember 1949 Desember 1952.

Saya sendiri pertama kali mendengar nama Kombes Ating Natadikusumah ini dari uwak saya, sepupu ibu saya, yaitu Kolonel Polisi Ismail Natawijogja, sekitar tahun 1994. Namun saya masih terlalu lugu untuk serius menyimak apa yang dibicarakan uwak saya saat itu.

Selanjutnya, sebagai seorang anak priyayi, tentu hal yang mudah bagi Hoegeng untuk mendapatkan pendidikan dari mulai sekolah dasar, Holland Inslanshe School (SD), lalu  sekolah menengah atau Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), hingga lulus dari lulus Algemene Middlebare School (AMS) di Jogyakarta.

Pada tahun 1940 Hoegeng kemudian meneruskan kuliah di Rechtshoogeschool te Batavia atau perguruan tinggi hukum di Batavia (Jakarta Saat ini). Sayang, tahun 1942, kampus itu ditutup oleh Tentara Jepang yang datang menggantikan Belanda. Hoegeng pun pulang ke Pekalongan dan menganggur.

Namun kesempatan untuk menjadi polisi itu datang ketika Gunseikanbu atau Kantor Pusat Pemerintah Militer Jepang membuka lowongan besar-besaran untuk pemuda pribumi mengikuti Kursus Polisi. Di Pekalongan jatah rekrutmen menjadi polisi itu  hanya untuk 11 Orang. Dan Hoegeng ternyata lolos seleksi dan mengikuti kursus kepolisian. Hoegeng lalu diangkat sebagai Polis pada tanggal 25 Nopember 1943..

Singkat cerita, setelah Indonesia merdeka, ia kemudian terus menapaki karir di Kepolisian Republik Indonesia, hingga pada tanggal 5 Mei 1968, Presiden Soeharto melantiknya sebagai Kepala Kepolisian Negara, orang nomor satu di jajaran kepolian republik Indonesia.

Terlalu banyak kisah-kisah heroik dan keteladanan Hoegeng Iman Santoso dalam menjalankan darmabhaktinya sebagai polisi.  Dia adalah legenda. Dia sosok teladan. dan nama besarnya belum tergantikan dalam sejarah Korps Tribarata itu.  Dan itu barangkali didasari oleh itikad dan tekad Hoegeng untuk menjadi seorang polisi, serta sebuah do'a dari Raden Ating Natadikusumah, Urang Sumedang yang menginspirasi Hoegeng menjadi POLISI. (*)

 



Share:

24 Agustus 2022

APA DAN SIAPA PANGERAN STICHTING YANG MEMBANGUN LINGGA DI SUMEDANG?

MONUMEN Lingga di tengah Alun-Alun Kabupaten Sumedang memiliki makna tersendiri bagi rakyat sumedang. Bahkan telah lama ditetapkan menjadi lambang resmi kabupaten yang dikenal sebagai "Kota Tahu" itu. .

Monumen lingga dibangun oleh Pangeran Stichting, dan didedikasikan untuk Pangeran Aria Soeria Atmadja atas jasa-jasanya.

Nah, banyak yang mengira Pangeran Stichting itu adalah seorang bangsawan dari Negeri Belanda. Bahkan masih ada urang sumedang sendiri, yang menyebutnya Pangeran Sicing, mirip nama seorang China.

LINGA di Alun-alun Sumedang, Dok Pribadi

Pangeran Aria Soeria Atmadjaatau "Pangeran Mekah",  juga mempunyai gelar sebagai "Pangeran Panungtung". itu karena Soeria Atmadja adalah Bupati Sumedang terakhir yang berhak memakai gelar "pangeran", gelar bagi raja-raja sumedanglarang.

Beliau memerintah di Sumedang Regenschap sejak 31 januari 1883 – 5 mei 1919. Konon, beliau wafat di Mekah saat melaksanakan ibadah haji pada 1 juni 1921.

Di tangan Pangeran Panungtung itulah Sumedang Regenschap berkembang pesat. Banyak program inovatif yang digagas dan dijalankan oleh Soeria Atmadja di bidang pertanian, perikanan, kehutanan, peternakan, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya.

Salah satu inovasinya adalah sistem terasering yang digunakan untuk membuka lahan sawah dan pertanian di dataran tinggi. Maka tentu saja, bukan hanya rakyat sumedang yang menjadi lebih sejahtera. pemerintah kolonial Hindia Belanda pun diuntungkan.

Atas jasa-jasanya yang besar itulah sejumlah elit pemerintah kolonial, keluarga besar menak sumedang, perwakilan swasta, dan perwakilan warga,  kemudian berhimpun membentuk semacam kepanitiaan untuk membangun sebuah monumen sebagai "pangeling-ngeling" atau  "mengenang" keberadaan Pangeran Aria Soeria Atmadja. Lembaga kepanitian itulah yang kemudian disebut sebagai "Pangeran Stichting" dan keberadaanya direstui oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dr. Dirk Fock.

Dalam arsip koran "Preanger Bode" disebutkan, "Pangeran Stichting" adalah  "de vereeniging ter herdenking van de nagedachtenis van pangeran aria soeria atmdjada (perkumpulan yang dibentuk untuk memperingati kenangan atau mengenang jasa-jasa Pangeran Aria Soeria Atmadja)

Mereka terdiri dari; AJH. Eijken, Residen Priangan sebagai ketua, CA. De Munnick, Asisten Residen Sumedang sebagai sekretaris, dan I de Vries, pengurus Soemedangrische Afdeelingsbank, sebagai bendahara.

Lalu anggota-anggotanya terdiri dari, Tumendang kusumadilaga, Bupati Sumedang; Raden Adipati Wiratanoeningrat, Bupati Tasikmalaya; AJN Engelenberg, anggota volksraad; HCH de Bie, inspektur pendidikan; Dr. HJ van der Schroeff, seorang dokter Bangsa Belanda; AE Reijnst, ketua perkebunan di Sukabumi; Raden Kartakusuma, Wedana Tanjungsari; Mas Hadji Abdulmanan, Penghulu Tandjongsari, Raden Sadikin, guru pertanian pribumi; Sumadiria, petani/peternak, dari kalangan warga biasa, dan Tanumanggala, partikulir atau pengusaha pribumi

Empat belas nama itu pula yang tercantum dalam dokumen piagam peresmian monumen lingga tersebut.

Untuk melaksanakan rencana proyek tersebut,  Pangeran Stichting  kemudian membentuk semacam tim pelaksana.  Koran "Preanger Bode" menuliskan, tim ini melibatkan lima orang, yakni; 1) Raden Adipati Aria Martanegara, mantan Bupati Bandoeng, 2) JZ van Dijck, mantan guru di garoet, yang diminta oleh Pangeran Stichting untuk merancang desain monumen yang akan dibangun, 3) Ir. WH Elsman, seorang insinyur sipil yang ditugasi penyusunan anggaran sesuai desain  yang dibuat oleh Van Dijck, 4) Ir. H Buijs, insinyur dari de Techniche Hoogeschool te Bandung (atau ITB sekarang), yang ditugasi sebagai pimpinan pelaksana pembangunan monumen, dan 5) dr. C. Kunst, seorang biologist (dokter heewan) dari unsur pemerintah kolonial yang bertanggungjawab atas rancangan model padang rumput di sekitar lingga.

Pangeran Stichting kemudian menggalang dana dari berbagai pihak untuk merealisasikan rencana pembangunan monumen. Koran  "Preanger Bode" edisi 16 januari 1922  melaporkan, dana yang berhasil dikumpulkan mencapai lebih dari 31.000 gulden.

Dilaporkan, dalam sebuah rapat yang dihadiri oleh seluruh pengurus dan anggotanya, Pangeran Stichting kemudian memutuskan pengalokasian dana tersebut sebagai berikut; 7.000 gulden untuk pembangunan fisik monumen; 5.100 gulden untuk pembangunan taman sekitar monumen (atau alun-alun sumedang); dan 18.000 gulden kemudian didepositokan di Soemedangrische Afdeelingsbank.

Monumen yang kemudian dikenal sebagai Lingga itu akhirnya berhasil dibangun dalam waktu sekitar tiga bulan. Gubernur Jenderal Hindia Belanda Drik Fock datang langsung ke Sumedang dan meresmikan Lingga pada hari Selasa, tanggal 25 april 1922.

Bagian dasar bangunan ini berbentuk bujur sangkar dan dilengkapi dengan sejumlah anak tangga serta pagar disetiap sisinya. Bangunan utamanya semacam kubus yang nampak melengkung di setiap sudut bagian atasnya. Lalu, puncaknya berbentuk kubah setengah lingkaran. Kubah lingga ini konon dapat dibuka dan menjadi akses pengambilan barang-barang yang tersimpan di dalamnya.

Pada tahun 1971, Lingga tersebut dipugar. Pahatan marmer yang bertuliskan bahasa belanda, diganti. Titimangsa pemugaran dapat dilihat terpahat dalam sebuah batu kecil di pojok bagian timur Lingga.

Sebagai catatan, dari keempat belas nama yang terlibat dalam Pangeran Stichting itu, ada nama Raden Sadikin, guru pertanian pribumi.

Beliau adalah ayahanda dari Dr. Hasan Sadikin, tokoh dan perintis Rumah Sakit Rancabadak Bandung (kini dikenal sebagai Rumah Sakit Hasan Sadikin).

Dan Raden Sadikin pun adalah ayahanda dari Letjen Marinir (purn) Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta pertama di Era Orde Baru, yang populer sebagai "Bapak Pembangunan-nya" Jakarta.  (*)

Share:

09 Februari 2022

ALI SADIKIN "SI MAUNG CANGKUDU"

 

PADA TAHUN 2010, Bupati Sumedang saat itu Dr. H. Don Murdono  didukung oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, mengusulkan Raden Ali Sadikin, atau orang Jakarta memangilnya Bang Ali Sadikin, sebagai  Pahlawan Nasional.  Tayangan ini adalah sekelumit kisah Ali Sadikin putra Sumedang, "Sang Maung Cangkudu" , yang berhasil menyulap Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Kota Metropolitan modern di jamannya.

*

Urang Sumedang yang gagah, tampan, dan cerdas itu adalah Ali Sadikin, "Si Maung Cangkudu". Ia menyulap Jakarta yang karut marut, menjadi  kota metropolitan moderen, dalam kurun waktu lebih kurang sebelas tahun masa kepemimpinannya sebagai GUbernur DKI Jakarta.

Ali Sadikin saat muda
Sumber: National Film Board Canada, 1971

Pasca negara dilanda huru hara 30 September 1965, di akhir senja kekuasaannya,  Bung Karno membuat satu keputusan cerdas:menunjuk dan melantik Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 28 Juli 1966 di Istana Negara.

Dalam benak Bung Karno:  Ali Sadidin yang dia sebuat sebagai si Kopig atau si Keras Kepala, adalah figur yang cocok untuk membangun kembali jakarta. Tak tanggung, Ia menduetkan Ali Sadikin dengan RHA. Wiriadinata, sebagai Wakil Gubernur DKI, yang juga Urang Sumedang.

Dengan kata lain, Duet Urang Sumedang itulah yang memimpin Kebangkitan Jakarta sebagai ibukota negara pasca Tragedi 1965.

Teman-teman,

Setelah Soekarno jatuh dari kursi kepresidenan, nasib politis yang harus diterima oleh para pejabat tinggi sipil maupun militer yang terkait dengan orde lama, atau yang dilantik Bung Karno adalah disingkirkan. Masuk penjara atau diasingkan ke luar negeri menjadi duta besar atau menjadi kaum pelarian yang terlunta-lunta jauh dari tanah air.

Tapi Ali Sadikin tidak. Mungkin karena beliau berlatar belakang militer KKO, bukan Angkatan Darat. Atau mungkin karena di mata Soeharto, sang pemimpin besar Orde Baru itu, Ali Sadikin secara politis relatif independen, dan masih dibutuhkan untuk menjaga masa transisi kekuasaan era Orde Lama menuju Orde Baru. Maka jadilah ALi Sadikin seorang Sunda, sebagai minoritas di tengah-tengah gerbong Soeharto yang berlatar Jawa. Tapi ulah salah, Hiji Oge Maung !

Ya...Ali Sadikin berjuluk Maung itu lahir di lingkungan Cangkudu, sebuah kawasan sejuk sebelah barat alun-alun Kota Sumedang, yang berlatar Gunung Palasari, dan rimbun oleh pepohonan Benteng Gunung Koenjti .

Rumah Keluarga Raden Sadikin itu berada di Jalan Raden Suyud, Kelurahan Kota Kulon, Kecamatan Sumedang Selatan.

Raden Sadikin adalah seorang Guru Sekolah Pertanian yang didirikan oleh Pangeran Soeria Atmadja. Dia memiliki lima anak. Anak pertamanya, seorang dokter, bernama Hasan Sadikin, yang kemudian kita tahu diabadikan menjadi nama rumah sakit nomor satu di Jawa Barat ini.

Dan Ali Sadikin adalah Putra Ketiga Raden Sadikin, lahir di Sumedang 7 Juli 1927. Ia menghabiskan masa kecil nya di Sumedang. Bersekolah di SD Jonggol (yang sekarang menjad SD Negeri Sukaraja) lalu berlanjut ke SMP Negeri 1 Sumedang.

"Ketika masih kecil sudah dikenal dengan sebutan Maung Cangkudu. Sifat tegas dan kepemimpinan sudah terlihat sejak kecil," kenang Umu Salamah atau Rd Ayu Salamah Gilang Purnama, teman sepermainan Ali Sadikin saat diwawancarai oleh wartawan, pada tahun 2010.

Di masa pendudukan Jepang, ALi Sadikin masuk Sekolah Tinggi Pelayaran di Semarang. Pasca Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Ali segera bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat bagian Laut, yang menjadi cikal bakal TNI Angkatan Laut. Kemudian ia dikirim ke Tegal, membentuk basis pangkalan TNI AL dan Korps Marinir pertama.

Satu cerita yang menunjukkan keberaniannya dalam bertempur melawan agresi militer Belanda adalah ketika dia dengan gagah berani, berlari ke garis depan sambil memberondongkan peluru dari sten gun-nya. Kawan-kawan seperjuangan Ali menyebut hal itu sebagai "Gaya Holywood" dalam bertermpur.

Selanjutnya, di masa orde lama, tahun 1963 hingga 1966, Ali menduduki jabatan Menteri Perhubungan Laut sekaligus Menteri Koordinator Urusan  Maritim. Sampai kemudian tanggal 28 Juli 1966 Presiden Soekarno melantiknya sebagai Gubernur Jakarta. Pada momentum inilah Kepemimpinan Ali Sadikin Si Maung Cangkudu itu, benar-benar teruji, dan nyata terbukti.  (*/gelagat.id)

Share:

21 Desember 2021

DIKIRA BEKAS KUBURAN ETNIS TIONGHOA, TERNYATA INI SEJARAH PENYEBUTAN TEMPAT BERNAMA "GUNUNG CINA " DI SUMEDANG

GELAGAT.ID - Lingkungan Gunung Cina berada di RT.4 RW.2 Kelurahan Regolwetan Kecamatan Sumedang Selatan, sebelah utara Alun-Alun Kabupaten Sumedang.  Kini ada bangunan sekolah SMPN 9 Sumedang di kawasan tersebut.

Mengapa kawasan tersebut diberi nama Gunung Cina? Banyak yang mengira kawasan itu dinamai Gunugn Cina karena konon dulunya adalah tempat pemakaman atau kuburan orang-orang dari etnis Tionhoa. Ternyata bukan.

Gapura Lingkungan Gunung Cina

Latar belakang nama tempat "Gunung Cina" itu terkait dengan sebuah kisah di masa kepemimpinan Bupati Sumedang Pangeran Soeria Koesoemaadinata atau Pangeran Soegih.

Konon, pada masa Pangeran Soegih, datanglah sebuah rombongan warga etnis Tiongkok ke Sumedang. Untuk menunjukkan eksistensinya, mereka menantang para jawara silat di Sumedang untuk bertarung.

BACA : KISAH ADU TANDING PARA PENDEKAR CINA MELAWAN JAWARA SILAT SUMEDANG

Setelah dikalahkan oleh para jawara Sumedang, mereka berjanji untuk berbakti kepada pemimpin Sumedang. Maka Pangeran Soegih pun bersedia menampung rombongan etnis Tionghoa tersebut, dan menempatkanya di sebuah lahan sebelah utara Gedong Bengkok atau Gedung Negara sekarang.

Kawasan itu dulu rimbun oleh pepohonan dan semak belukar. Counternya sedikit lebih tinggi dibandingkan lokasi pemukiman penduduk Sumedang yang sudah ada.  Itu sebabnya, para penduduk kemudian akrab menyebut kawasan itu sebagai Gunung Cina.  (*/gelagat.id)

Share:

19 Desember 2021

KISAH ADU TANDING PARA PENDEKAR KUNGFU TIONGHOA MELAWAN JAWARA-JAWARA SILAT SUMEDANG

GELAGAT.ID - Sejak Dekade 1970-an hingga dekade 1990an, Film-film Kungfu produksi Hongkong membanjiri Bioskop dan rental-rental kaset video di tanah air, termasuk di Sumedang.

Rumah saya dulu di Jalan Pangeran Geusan Ulun No. 136 Sumedang, tepat di seberang Kantor BNI 46 Sumedang, dan kini telah menjadi sebuah Dealer Motor. Hanya sekitar 50 meter dari rumah saya dulu, ada Gedung Bioskop Diana Theatere yang sekarang menjadi kantor sebuah bank syariah. Jadi, tak heran bila saya cukup mengingat film-film hongkong masa-masa itu.

Contoh Cuplikan Film Kungfu 
Melalui film-film itulah Kungfu sebagai produk kebudayaan China menyebar dan mendunia. Harus diakui, di jaman itu, masyarakat banyak lebih mengenal gaya berkelahi Bruce Lee dibanding Syabandar, Cimande, atau aliran-aliran lainnya dalam pencak silat.

Padahal, ada kisah menarik tentang Adu Tanding antara para pendekar Kungfu China dengan Jawara Silat Sumedang, di jaman Pangeran Suria Kusumahadinata atau Pangeran Sugih, yang menjadi Bupati Sumedang periode 1836-1882.

Dalam buku “Masjid Agung dan Sekitarnya” yang ditulis oleh Deddi Rustandi, terbit tahun 2013 lalu, di jaman Pangeran Sugih, datanglah serombongan etnis China ke Sumedang.

Entah alasan apa rombongan China ini datang ke Sumedang. Penulis buku itu pun juga tidak menerangkan darimana rombongan itu datang. Penulis buku hanya menerangkan, kedatangan rombongan Tionghoa itu ke Sumedang berdekatan waktunya dengan rencana Pangeran Sugih untuk merelokasi Masjid Agung Sumedang yang mulai dilakukan pada tahun 1850.

Nah, ketika tiba di Sumednag, dalam suatu kesempatan, rombongan etnis Tionghoa itu ingin menunjukkan eksistensi dan budaya mereka, termasuk kelihaian ilmu beladiri kungfu. Dengan lantang mereka mengatakan ingin menjajal kemampuan beladiri jawara-jawara Sumedang.

Tantangan seperti itu, diladeni oleh jawara-jawara silat Sumedang. Gelanggang adu tanding pun segara dibuat. Di kawasan yang saat ini disebut lingkungan Kaum Sumedang, pada saat itu pernah ada sebuah tempat yang disebut "Kalangan", sebuah arena tempat untuk berlatih dan bertanding silat.

Maka bertarunglah para pendekar kungfu dengan jawara-jawara silat Sumedang dengan seru disaksikan oleh Pangeran Sugih, para tokoh dan warga sekitar kota Sumedang serta seluruh rombongan etnis Tionghoa tersebut.

Hasilnya, adu kedigjayaan itu dimenangkan oleh jawara-jawara Sumedang. Rombongan etnis Tionghoa itu mengaku kalah dan menyerah. Sebagai tanda menyerah, mereka menyatakan mengabdikan diri kepada bupati dan para tokoh Sumedang.

Pangeran Sugih pun kemudian memberikan lahan bagi mereka untuk tinggal di Sumedang. Pangeran Sugih menempatkan mereka di sebelah utara alun-alun Sumedang. Nah saat ini, bekas tempat pemukiman rombongan etnis Tionghoa itu kini bernama Lingkungan Gunung Cina, RT.2 RW 4 Kelurahan Regolwetan Kecamatan Sumedang Selatan.

Selanjutnya, karena sudah menyatakan diri siap mengabdi kepada bupati dan para tokoh Sumedang, maka Pangeran Sugih pun kemudian memerintahkan mereka untuk membantu pembangunan Masjid Agung Sumedang.

Hasilnya, warna kebudayaan China nampak dalam arsitektur Masjid Agung Sumedang yang bisa kita lihat hingga saat ini. Yang paling jelas terlihat adalah susunan atap masjid yang bersusun tiga, mirip dengan bangunan-bangunan tradisi Tionghoa.

Warna dan pengaruh kebudayaan China dalam keseharian masyarakat Sumedang yang juga bisa disaksikan bahkan dinikmati hingga saat ini adalah Tahu.

Meski telah populer dengan sebutan TAHU SUMEDANG, tetapi cikal bakal penangan Tahu yang curintik itu dikembangkan oleh warga keturunan etnis Tionghoa bernama Babah Bungkeng. (*/gelagat.id/Kurniawan)

 

Share:

15 Desember 2021

CADASPANGERAN PERNAH LONGSOR HEBAT DI TAHUN 1995

GELAGAT.ID - Memasuki era 1990-an, Jalur Bawah Jalan Cadaspangeran dinilai sudah tidak mampu lagi menampung arus lalu lintas. Maka pada tahun 1995, pemerintah berencana mengaktifkan kembali jalur atas Cadaspangeran dan memperlebar badan jalannya.

Namun sebelum niat itu terwujud, kecerobohan teknis terjadi saat melakukan proses ekskavasi tanah di lereng jalur atas.  Entah insinyurnya salah menghitung atau menghemat ongkos proyek, entah apa alasannya, pengerukan lereng jalan lama itu dilakukan nyaris tegak lurus. Akibatnya, tanah dibagian atas kekurangan penyangga. 

Maka insiden pun terjadi.  Jumat  subuh, 28 April 1995, penduduk sekitar mendengar suara ledakan yang diikuti suara gemuruh dan getaran tanah. LOngsor dahsyat terjadi di Cadaspangeran.

Yang ajaib,  biasanya pada saat subuh menjelang pagi itu, jalur Jalan Cadaspangeran cukup padat dilalui kendaraan. Ya barangkali seperti saat ini. Tetapi,  saat insiden longsor terjadi, tak ada satu pun kendaraan atau orang yang lewat.  Sehingga tidak ada satu pun korban jiwa. Hanya satu unit beko yang digunakan proyek pengerukan tanah, ditemukan di dasar jurang, serta tanah yang menggunung menutup badan jalan sepanjang sekitar 500 meter.

Lukisan Digital Jalur Atas Cadaspangeran
Jalur lalu lintas Sumedang menjadi lebih sepi karena Jalur Bandung-Sumedang terputus hampir sekitar lima bulan lebih. Akhir tahun 1995 baru bisa digunakan lagi. Itu pun dengan sistem buka tutup satu jalur. Bagi mereka yang menggunakan kendaraan kecil dan mau sedikit bersusah payah, diperbolehkan melewati jalur alternatif Citali-Rancakalong-Sumedang, dengan jarak tempuh sekitar 30 km lebih panjang. 

Akhirnya rencana mengaktifkan jalan lama pun dihentikan.  Pemerintah kemudian fokus memperbaiki dan memperlebar jalur bawah cadaspangeran, tentu dengan lebih serius dan hati-hati.

Tahun 1996, proses perbaikan dan pelebaran itu dimulai. Sistem konstruksinya terbilang unik. Secara sederhana dapat dikatakan, Pelat-pelat beton bertulang seperti dipaku atau ditempelkan ke tebing dan disangga dengan kolom-kolom beton raksasa. Hasilnya, Jalan Cadaspangeran bawah itu kini memiliki lebar sekitar 12 meter, dan leluasa dilewati kendaraan dari dua arah. Sekitar akhir tahun 1997, jalan itu sudah kembali normal digunakan.

Kini, setelah 24 tahun berlalu sejak diperbaiki tahun 1997, Jalan Cadaspangeran masih digunakan dan menjadi jalur vital paling singkat transportasi darat menghubungkan Kota Bandung-Kabupaten Sumedang-dan Kota Cirebon di pantai utara pulau jawa. Namun, banyak ahli yang mulai mengkhawatirkan kondisi jalan itu setelah kendaraan bertonase besar melewati jalan itu sejak awal dekade 2000-an. 

Semoga jalur tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan bisa segera selesai, agar beban jalan cadaspangeran jauh berkurang. Sebab bagi urang Sumedang jalan itu memiliki arti tersendiri, dan penuh dengan catatan sejarah. (*/kurniawan)

Share:

JALUR BAWAH JALAN CADAS PANGERAN DIBANGUN PANGERAN ARIA SOERIA ATMADJA

 

GELAGAT-ID - Sudah banyak yang tahu bahwa Jalan Cadas Pangeran itu adalah salah satu fase penting Jalan Pos Anyer-Panarukan yang dibangun atas perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman WIliam Daendles.

Jalan yang dimaksud itu adalah jalan yang kini kita kenal sebagai Jalur Atas Cadaspangeran. Jalur itu satu arah, yang hanya bisa dimasuki kendaraan kecil dari arah Bandung menuju Cirebon. Patokannya, saat sudah melihat Patung Pangeran Kornel yang sedang bersalaman dengan Perwira Hindia Belanda, anda bisa terus mengambil jalur di sebelah kiri. Itulah Jalan Cadaspangeran yang dibangun pada masa kolonial Hindia Belanda.

Lantas, sejak kapan dan siapa yang menginisasi pembangungan Jalan Cadaspangeran di jalur bawah, yang biasa dan lazim dilalui saat ini?

Lukisan Digital Pangeran Aria Soeria Atmadja dan Kawasan Cadaspangeran

Dari beberapa sumber lisan dan tertulis seperti dalam buku "Masjid Agung dan Sekitarnya" yang ditulis oleh Dedi Rustandi, dan diterbitkan oleh Kantor Arsip Daerah Sumedang, Tahun 2013,  dapat diketahui bahwa ternyata, Jalan cadaspangeran jalur bawah itu mulai dibuat pada tahun 1908, saat Sumedang dipimpin oleh Pangeran Aria Soeria Atmadja, yang juga disebut Pangeran Panungtung.

Diketahui, jalan baru itu dibuat karena jalan lama atau Jalur Atas Cadaspangeran itu  kondisinya ternyata cukup berat dilalui oleh kereta kuda.

Kawasan Cadas Pangeran Tahun 1991,
Sumber: Koleksi Pribadi Kurniawan Abdurahman

Selain tanjakan dan turunan yang curam, juga belokan-belokan tajam yang sulit dilalui oleh kereta kuda. Konon untuk melewati tanjakan di jalan lama itu, kereta kuda pun masih harus dibantu oleh tarikan tenaga kerbau atau sapi. Dan sebaliknya, saat melewati turunan, kusir kereta harus susah payah mengendalikan langkah kuda.

Karena dipandang tak efektif dan berisiko tinggi, maka dibuatlah jalan baru, yang kini kenal sebagai Jalur bawah Cadaspangeran. Jalur itu bisa dilalui secara dua arah, lebih landai, meski jika tak hati-hati tetap saja berisiko tinggi, sebab dipinggirnya ada mulut jurang yang menganga. Sementara jalur atas sejak saat itu ditutup bagi kendaraan.

Konon , suatu ketika, saat menyaksikan proses pembuatan jalan Cadaspangeran bawah itu, Pangeran Aria Soeria Atmadja sempat berkata lirih. "Pileuleuyan jalan..jeung aing tereh paturay". 

Tak diketahui kapan perkataan itu beliau ucapkan. namun besar kemungkinan tidak lama sebelum keberangkatan beliau pensiun dari jabatan bupati dan menunaikan ibadah haji. Perlu diketahui, Pangeran Soeria Atmadja sendiri disebut Pangeran Panungtung.  Sebutan itu diberikan karena beliaulah Bupati Sumedang terakhir yang berhak memakai gelar "Pangeran".  (*/kurniawan)

 

Share:

14 Desember 2021

TIGA MEGAPROYEK YANG MENGUBAH SUMEDANG

 

SEJAK zaman Nederland  Indische atau zaman kolonial Hindia Belanda hingga kini, menurut saya ada tiga proyek raksasa di Kabupaten Sumedang  yang dampaknya telah mengubah banyak sendi-sendi kehidupan masyarakat di kabupaten bekas Kerajaan Sumedanglarang itu.  Tetapi, di sisi lain juga melahirkan polemik dan persoalan-persoalan yang hingga kini seolah-olah belum selesai diperbincangkan.

Yang pertama adalah megaproyek Jalan Daendels. Kita tahu, jalan pos anyer-panarukan adalah proyek raksasa di masa Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman William Daendels.

Kawasan Patung Cadas Pangeran

Fase yang paling populer dari proyek itu adalah fase jalur Bandung-Sumedang-Cirebon, yang melahirkan banyak cerita, baik yang berupa fakta maupun mitos.  Sudah banyak tayangan video di youtube maupun buku dan kajian ilmiah dari para akademisi/sejarawan yang membahas tentang itu.

Yang pasti,  setelah jalur cadas pangeran itu terbuka, maka sosial ekonomi dan budaya masyarakat Kabupaten Sumedang pun berubah. 

Tetapi di sisi lain kita tahu dalam sejarah, banyak sekali polemik terungkap. Mulai dari tentang siapa yang bersalaman dengan Pangeran Kornel (Bupati Sumedang saat itu), yang dalam satu versi sejarah bermuara pada persaingan politik antara elit-elit di kerajaan belanda,  hingga seperti apa dan bagaimana rakyat jelata harus menanggung penderitaan dalam proyek tersebut. Selalu saja saja ramai dibahas.

Yang kedua, proyek raksasa Bendungan Jatigede. Proyek ini digagas sejak zaman Presiden Soekarno. Mulai dirintis pembangunannya di zaman Presiden Soeharto. Sempat mangkrak dan kembali dilanjutkan pada masa Presiden SBY. Lalu berhasil diwujudkan di era Presiden Republik Indonesia yang ketujuh yaitu Presiden Joko Widodo.

Kawasan Lingkar Utara Bendungan Jatigede

Meski belum sepenuhnya selesai, bendungan itu diresmikan pada bulan Agustus 2015.  Artinya, butuh waktu sekitar 50 tahun lebih sejak digagas hingga bendungan seluas ribuah hektar itu terwujud.

Sudah banyak pula tayangan-tayangan video tentang Bendungan Jatigede ini, terutama tentang kisah-kisah penderitaan rakyat Kabupaten Sumedang yang harus kehilangan lembur atau tanah kelahirannya, termasuk situs-situs sejarah penting yang harus tenggalam menjadi dasar bendungan.

Keuntungan dari fungsi bendungan itu sendiri, suka atau tidak  lebih banyak dirasakan oleh masyarkat di daerah lain. Satu-satunya keuntungan yang mungkin masih bisa dipetik secara umum adalah aset pariwisata. 

Kabupaten Sumedang pun berubah, dari landscape pertanian menjadi landscape pariwisata. Bahkan iklim pun berubah. Sumedang yang asalnya sejuk, mulai memanas.  Dengan begitu,  otomatis, sosial, ekonomi, budaya, dan perilaku masyarakat Sumedang pun,pelan tapi pasti berubah. Apakah akan lebih makmur atau sebaliknya, wallahualam bishawwab. Waktu yang akan  membuktikan.

Yang ketiga, Proyek jalan Tol Cisumdawu.

Sepengetahuan saya, wacana proyek tol ini mulai mengemuka pada jaman Bupati H. Misbach (menjabat pada periode 1998-2003).  Dalam sebuah acara di akhir masa jabatannya, sekitar awal tahun 2003, Bupati Misbach sempat mengemukakan wacana pembangunan tol Cileunyi-Cimalaka atau tol Ci-Ci.

Proyek Tol Cisumdawu yang belum selesai

Baru kemudian terjadi perubahan pada Detail Engineriiing Design (DED), sehingga rencana ruas jalan yang akan dibangun pun jadi lebih panjang.  Menyambungkan ruas jalur tol Cilenyi-Sumedang, hingga Dawuan Kabupaten Majalengka, atau yang kita kenal saat ini sebagai Tol Cisumdawu.

Para ahli dan akademisi tentu sudah memprediksi bagaimana dan seperti apa perubahaan sosial, budaya, dan ekonomi di Kabupaten Sumedang setelah jalan tol itu terwujud dan mulai difungsikan. Namun jauh sebelumnya, sejak zaman kolonial, konon para tetua di sumedang yang dikenal visioner, pernah berujar:

"kahareup bakal aya jalan ngebat panjang meulah sumedang" (di masa depan, akan ada sebuah jalan lurus dan panjang yang akan membelah kawasan kota sumedang).

Jika kita runut waktunya, sejak perencanaan dimulai hingga saat ini (14/1/21), proyek tol itu belum juga terwujud.  Pemerintah menargetkan bulan Desember 2021 atau Januari 2022, tol cisumdawu bisa difungsikan. Jika tidak molor lagi, artinya, butuh waktu lebih kurang 18 tahun sejak perencanaan.  Waktu yang memang begitu lama bagi sebuah pembangunan tol, dibanding tol-tol lain di Pulau Jawa ini.

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan
saat meninjau Proyek Cisumdawu di Sumedang
September 2021 lalu

Wajar jika kemudian, saat meninjau proyek itu akhir september 2021 lalu, Menko Kemaritiman dan Investasi pak Luhut B Pandjaitan setengah bercanda, di hadapan wartawan, berujar, proyek tol cisumdawu itu proyek mangkrak. hehehe...

Nah, dari ketiga megaproyek tadi, saya melihat hal yang sama; selalu saja banyak masalah dan polemik yang menyertainya. Memang dalam setiap proyek di manapun, masalah itu pasti ada. Tapi di Sumedang, masalah itu seolah-olah lebih besar, dan dirasakan lain.

Entah kenapa. wallahualam bisshowwab... Dalam tulisan ini, saya tak bermaksud mendramatisirnya. Seperti apa dan bagaimana, silahkan saja teman-teman, khususnya Urang Sumedang merenungkannya. (*/krn)

 

 

 

 

 

 

Share: